Senin, 14 Maret 2016

PAPER REVIEW: What Anti-Realsm in Philosophy of Mathematics Must Offer? (Feng Ye)

PHILOSOPHY OF MATHEMATICS

PAPER REVIEW









BY

AMANDA LA HADI
G2 I1 15 007







PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016



REVIEW JURNAL

JUDUL          : What Anti-Realsm in Philosophy of Mathematics Must Offer?
PENULIS      : Feng Ye

I.         ISI/KONTEN
1.        Pendahuluan
Pendahuluan menjelaskan tentang awal mula munculnya perdebatan antara penganut realisme dan anti-realisme dalam matematika beserta para pendukungnya. Kedua penganut ini bertentangan dalam hal menjawab entitas objek-objek dalam matematika.
Kaum anti-realis mempertahankan teori bahwa kita harus mempercayai keberadaan seluruh entitas matematika dan seluruh aksioma serta teorema matematika adalah benar. Bertentangan dengan hal itu, kaum realis mengklaim bahwa banyak objek-objek abstrak dalam matematika yang tidak dapat dijelaskan entitasnya sehingga para ilmuan seharusnya hanya memandang matematika dari segi kebenaran konkrit saja. Secara khusus kaum realis mengambil permasalahan unik yang hingga saat ini belum dapat dijelaskan entitasnya oleh kaum anti-realis yaitu tentang “ketakhinggaan” yang menjurus pada ruang Riemann.
Alasan penulis mempublikasikan artikel ini adalah untuk mencoba mengeksplorasi tantangan-tantangan terkuat bagi kaum anti-realis dengan cara menginterpretasi intuisi yang mendukung kaum realis. Tantangan yang diberikan ini bukan dengan tujuan untuk melemahkan teori-teori kaum anti-realis, tapi justru sebaliknya. Jika anti-realis dapat menjawab tantangan-tantangan ini maka akan semakin memperkuat fondasi mereka dalam aliran filsafat matematika. Selama ini yang penulis liat adalah kurang kuatnya alasan yang diberikan oleh para anti-realis ketika menjawab tentang entitas objek abstrak dalam matematika seperti selalu mengatasnamakan “kecukupan empiris” (Hoffman, 2004) atau “kecukupan nominalistik” tanpa adanya alasan yang benar-benar “nyata”.
2.        Tantangan Untuk Anti-Realisme
·           Tantangan pertama
Anti-realisme harus menjelaskan apa yang benar-benar ada dalam matematika (jika bukan entitas matematika), dan harus menunjukkan bagaimana hal-hal nyata ini dapat menceritakan makna-makna dari pernyataan matematika dan pengetahuan, intuisi, dan pengalaman ilmuan matematika.
Pernyataan matematis tentu saja sangat berarti bagi para ilmuan matematika dan mereka tentunya memiliki pengetahuan, intuisi, dan pengalaman yang cukup untuk mendukung pernyataan (definisi, aksioma, teorema, dll) yang mereka keluarkan.
Pada tantangan ini, para ilmuan kaum anti-realis diminta untuk dapat memverifikasi kebenaran dari setiap pernyataan yang mereka keluarkan. Verifikasi disini berarti menunjukan bukti nyata tentang entitas matematika dari pernyataan tersebut. Contohnya, ilmuan kaum realis belum dapat menjelaskan pengetahuan nyata mereka tentang “ruang Riemann yang kira-kira ismorfis dengan ruang-waktu pada kenyataan”. Sehingga menjadi tugas para verifikator untuk (setidaknya) menegaskan bahwa verifikasi dapat menjelaskan makna, pengetahuan, dan intuisi dalam praktek matematis.
Tantangan ini juga untuk menjawab hasil verifikasi dari Dumment (1973) yang menyatakan bahwa kesuksesan penggunaan bahasa matematika klasik oleh para ilmuwan adalah tidak sah, itu hanya sekedar “penggunaan intuisi” yang hampir tidak pernah dipraktekan oleh para ilmuan. Paham ini disebut fiksionalisme, dimana mereka juga mengklaim bahwa eksistensi pernyaaan-pernyaatn matematis “secara harfiah adalah palsu” sebab entitas matematis tidaklah  ada.
Intinya adalah kaum anti-realis harus menjawab pertanyaan: Apakah praktek matematika kami yang terbaru dan pemahaman ilmuan yang mengerjakannya menyiratkan realisme? dengan tantangan untuk menghadirkan pemahaman, pengetahuan, dan intuisi yang menyiratkan eksistensi harfiah dari entitas matematis seperti pada ruang Riemann.
·           Tantangan kedua
Anti-realisme harus menceritakan keaslian hubungan-hubungan antara beberapa (yang diduga keras) entitas matematis (atau struktur) dan beberapa bentuk fisik.
Ilmuan memilih ruang Riemann untuk memodelkan struktur ruang dan waktu dengan alasan yang baik. Meskipun ruang Riemann tidak nyata secara harfiah, tetap saja ini adalah tentang fakta bahwa dalam beberapa hal tertentu, ruang Riemann dan struktur ruang-waktu pada dunia nyata identik secara struktural.
Kaum anti-realis memiliki pendekatan yang dapat digunakan untuk beberapa konsep umum yang berlaku dalam matematika, seperti kecukupan nominalistik untuk menjelaskan manfaat dari matematika. Tapi ini sama sekali tidak dapat menjelaskan hubungan konkrit antara matematika dan dunia nyata.
Untuk menjawab tantangan ini misalnya dengan menjelaskan tentang ruang Riemann. Jika ruang Riemann pernah ada dan secara harfiah isomorfis dengan dengan ruang-waktu fisik, harus ada sebuah penjelasan berdasarkan kecukupan nominalistik atau empiris.
·           Tantangan ketiga
Anti-realisme harus mengidentifikasi dan memperhitungkan berbagai macam aspek dari objektifitas dalam praktik dan aplikasi matematika.
Sebuah upaya alami untuk menjelaskan objektifitas berdasarkan perspektif anti-realis adalah dengan mengklaim kebenaran bahwa mengikuti aturan pembuktian menggunakan logika matematika adalah suatu hal yang objektif. Selain itu, aspek objektivitas lain dari matematika adalah berkaitan dengan hubungan antara matematika dengan dunia fisik.
Sekali lagi dengan mengambil contoh ruang Riemann, pada tantangan ini kaum anti-realis diminta untuk mengklarifikasi objektifitas dari entitas matematika, salah satunya untuk menduga kebenaran matematika tentang ketakhinggan dan hal-hal abstrak sebelum pada akhirnya para pengamat menolak objektifitas yang mereka ajukan.
·           Tantangan keempat
Anti-realisme harus menjelaskan kenyataan, universalitas, prioritas dan kebutuhan akan aritmatika sederhana dan himpunan teorema teoritis, dan mereka juga harus memberikan sebuah pertanggungjawaban yang konsisten dari logika.
Apakah “5+7 = 12” adalah benar? Kita semua meyakini kebenaran akan pernyataan ini. Ini tidak akan membantu untuk mengatakan bahwa “5+7 = 12” adalah “salah secara harfiah”, sebagai sesuatu yang tampaknya dikatakan oleh kaum anti-realis. Harus terdapat kebenaran dalam hal ini meskipun angka tidak “secara harfiah ada” dan meskipun “5+7 = 12” adalah “salah secara harfiah”.
Tantangan ini mengharuskan anti-realis untuk menjelaskan konten dari “5+7 = 12” dan kenapa pernyataan ini secara nyata benar dalam arti yang tepat.
·           Tantangan kelima
Anti-realisme harus dapat menjelaskan matematika berdasarkan asumsi bahwa banyak terdapat objek-objek konkrit yang hanya memiliki jumlah terbatas, tetapi juga harus memperhitungkan intuisi nyata yang valid “tentang ketakhinggan”.
Filsuf yang mendukung anti-realisme mungkin masih memiliki pendapat yang berbeda tentang ketakhinggaan. Field (1998) mengacu ke “asumsi kosmologis” dalam ketakhinggaan alam semesta untuk mempertahankan bahwa pernyataan aritmatika yang menyiratkan ketakhinggan memiliki nilai kebenaran objektif. Namun hingga saat ini fisikawan belum mampu membuktikan bahwa alam semesta tak terbatas. Satu hal yang sangat penting bahwa pada hampir seluruh area sains sejauh ini, penggunaan matematika terbebas dari hubungan ruang-waktu apakah terbatas atau tidak terbatas (apakah diskrit atau kontinu).
Tantangan ini adalah untuk menjelaskan pernyataan: jika kaum anti-realis menerima objektifitas dari ketakhinggaan, tetapi mengklaim bahwa hal itu tidak berarti bahwa alam semesta fisik adalah tak terbatas, maka dimanakah ketekhinggan itu berada dalam alam semesta yang terbatas dan diskrit ini?
·           Tantangan keenam
Anti-Realisme harus menjelaskan kemampuan matematika untuk diterapkan, dan untuk tujuan ini, salah seorang harus menunjukan bahwa referensi nyata dalam ketakhinggan dan entitas abstrak matematika dalam penerapan matematis pada prinsipnya diabaikan.
Melia (2000) mengklaim bahwa matematika membawa kita pada teori yang lebih sederhana tetapi tidak ke dunia yang lebih sederhana. Ia berpendapat “kesederhanaan” tidak menggambarkan matematika.
Disini kaum anti-realis diminta untuk menjelaskan kesenjangan yang terjadi antara dunia matematika yang tidak terbatas dengan dunia nyata yang terbatas.
Untuk mempermudah penjelasan ini, penulis memberikan contoh tentang komputer. Komputer digunakan untuk membangun model dan mensimulasikannya meskipun model tersebut tidak benar-benar ada. Sementara komputer adalah hal yang nyata. Kegagalan komputer untuk membangun sebuah model tidak lantas menyebabkan kita dapat mengklaim bahwa komuter tidak nyata dan program serta aplikasi pada komputer adalah hal yang salah secara harfiah. Hal ini sama halnya ketika kita melihat kegagalan dalam pemodelan matematis yang tidak serta merta menunjukkan bahwa model tersebut tidak nyata.
Kaum anti-realis belum benar-benar menjelaskan bagaimana matematika diterapkan, atau bagaimana model matematik bekerja. Mereka belum memberikan penjelasan yang secara harfiah benar bagaimana "model fiktif" dapat diterapkan untuk memperoleh kebenaran literal tentang hal-hal yang nyata. Karena hal-hal fiksi tidak ada (benar secara harfiah), maka kita tidak harus tidak mengacu pada "model fiktif" lagi. Artinya, anti-realis harus menunjukkan bahwa pada prinsipnya mereka diabaikan.

3.        Sebuah Laporan Ilmiah Untuk Praktek Matematika
Bagian ini menjelaskan tentang kesimpulan yang dapat penulis ambil dari gambaran keadaan kaum anti-realis, dimana mereka belum dapat secara nyata membuktikan tantangan-tantangan yang penulis berikan. Apa yang benar-benar ada dan apa yang sebenarnya terjadi dalam praktek matematika? Sejak muncul dugaan bahwa "ruang Riemann" tidak benar-benar ada, jika seseorang bertanya, "Apa yang matematikawan lakukan ketika dia berbicara 'tentang ruang Riemann'?", Satu-satunya jawaban sederhana tampaknya adalah, "Dia membayangkan sesuatu". Oleh karena itu, apa yang perlukan adalah penjelasan yang sangat realistis dan benar-benar jujur dari para anti-realis tentang apa itu “membayangkan sesuatu”.
Penulis menekankan "langsung" di sini, karena ini diklaimnya sebagai representasi mental yang secara tidak langsung berhubungan dengan hal-hal eksternal yang nyata. Dengan kata lain, imajinasi kita tidak benar-benar menciptakan "entitas imajiner." Hanya tangan kita yang dapat menciptakan hal-hal dari bahan yang sudah ada. Ketika kita membayangkan sesuatu, pikiran kita membuat representasi mental yang berada di otak kita.

II.      KEJELASAN ISI
Pada artikel ini, penulis telah menjelaskan dengan gamblang bagaimana kondisi kaum anti-realis dalam aliran filsafat matematika. Hal-hal apa yang mereka abaikan dan belum dapat diperjelas hingga saat ini digambarkan lewat tantangan-tantangan yang diajukan. Penulis telah mengambil literatur yang sangat jelas, baik dari para filsuf realis maupun anti realis untuk mendukung kuatnya argumen yang ia berikan pada masing-masing tantangan.
Bahasa yang digunakan dalam artikel ini mudah dimengerti hingga orang awam yang membacanyapun dapat memahami isi artikel (mungkin) dengan baik.




III.   KESIMPULAN
Matematika adalah bahasa ilmu pengetahuan yang menjelaskan objek-objek di Alam Semesta baik yang konkrit maupun abstark dalam berbagai pola dan simbol. Entitas matematika adalah wujud objek yang disimbolkan dalam matematika. Aliran filsafat realisme dan anti-realisme adalah gambaran umum filsafat dalam matematika. Ilmuan matematika terbagi kedalam kedua paham itu. Para realis selalu meminta bukti konkrit untuk setiap entitas dalam matematika, sementara anti-realis menganggap itu tidak perlu khususnya untuk entitas abstrak seperti ketakhinggan. Hal ini membuat anti-realis tidak memiliki penjelasan yang kuat ketika diminta alasan logis yang menghubungkan matematika dengan dunia nyata. Lewat artikel ini (Feng Ye) mengharapkan kaum anti-realis dapat meembangun dasar yang lebih kuat dalam paham filosofis mereka dengan menjawab tantangan-tantangan yang ia berikan.

Artikel ini sangat bermanfaat bagi pembaca khususnya orang-orang yang ingin memahami lebih lanjut tentang objek matematika. Karna hanya terdiri dari objek abstrak dan konkrit, untuk memahami matematika, kita harus memahami terlebih dahulu dasar filosofis yang membedakan kedua objek ini. Bagaimana para ilmuan matematika membuktikan keberadaan dari entitas objek-objek ini? Apakah semuanya dapat kita lihat secara nyata atau hanya dapat dipikirkan dalam alam pikiran kita? Jawabannya telah digambarkan secara umum dalam artikel yang singkat ini. 


Jurnalnya dapat diakses disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar